Senin, 14 Maret 2016

Indonesia Tempel Thailand Jadi Basis Produksi di ASEAN



Paris, KompasOtomotif – Indonesia memiliki potensi besar dan suatu saat nanti akan mengambil alih predikat basis produksi terbesar di Asia Tenggara (ASEAN) dari Thailand. Kesimpulan yang dikeluarkan para peneliti pasar otomotif global yang bermarkas di Paris, Ipsos.
Dilansir dari Just Auto, Kamis (10/3/2016), berdasarkan laporan Ipsos Busineess Consulting, menerangkan, Thailand sekarang memiliki memproduksi sekitar 2 juta unit mobil per tahun sedangkan Indonesia 1,1 juta unit. Perbedaan mendasar, 55 persen produksi Thailand untuk memenuhi ekspor sementara Indonesia lebih sedikit, hanya 23 persen.  
Tahun lalu produksi Indonesia dengan Thailand terpaut 810.000 unit. Namun pada 2020 diprediksi perbedaan akan menyusut, menempel tinggal 465.000 unit. Ipsos menilai jarak semakin sempit sebab Indonesia bisa meningkatkan utilitas produksi. Kapasitas produksi Indonesia hampir 2 juta unit tapi utilisasi  kini baru 62 persen.

Investor
Kendati ekspor hanya hampir seperempat kemampuan, Indonesia punya kemampuan penyerapan domestik yang kuat. Artinya, hal itu bisa dipandang sebagai basis harapan investor.
Pihak Ipsos percaya, pemain otomotif global yang tidak punya basis produksi signifikan di Indonesia akan semakin bertanya apakah mereka dalam posisi meningkatkan pangsa pasar di ASEAN yang terdiri dari 600 juta orang. Kemudian, apakah mereka bisa mempertahankan pangsa pasar mereka sekarang seperti perusahaan lain yang berekspansi di Indonesia dan Asia pada umumnya. 

"Basis produksi di Indonesia bisa menguntungkan dari biaya, skala, dan rantai suplai di negara yang sepertinya berada di jalur untuk menjadi kekuatan otomotif utama di ASEAN,” tulis Ipsos.

Indonesia bisa menjadi lebih besar, tapi menurut Ipsos butuh regulasi yang stabil, pengembangan konsisten, dan sarana pendukung infrastruktur untuk melawan penurunan penjualan domestik yang sekarang sedang terjadi. Bila hal itu terjadi, efek domino para produsen mendirikan pabrik sekaligus melebarkan diler akan terjadi agresif.
Meski begitu bukan berarti tanpa tantangan. Kendala Indonesia dinilai pada iklim bisnis. Dalam indeks kategori negara “termudah melakukan bisnis” World Bank, Indonesia berada di urutan 109 dari 198. Sebagai pembanding Thailand di posisi 49.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar